AFTN Social

Media Polmas Poldasu

Transparan, anti kkn dan anti kekerasan

Menteri Edhy Prabowo Diciduk KPK, Ini Reaksi Susi Pudjiastuti

5 min read

Medan (Media Polmas) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Rabu (25/11/2020) dini hari.

“Benar, kita telah mengamankan sejumlah orang pada malam dan dini hari tadi,” kata Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango saat dikonfirmasi, Rabu pagi.

Nawawi mengaku belum dapat memberikan informasi lebih lanjut terkait penangkapan Edhy tersebut.

Sedangkan Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron mengatakan, penangkapan Edhy terkait dengan dugaan korupsi dalam ekspor benur.

“Benar KPK tangkap, berkait ekspor benur,” kata Ghufron saat dikonfirmasi, Rabu.

Menurut Ghufron, Edhy ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta bersama sejumlah pihak dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta anggota keluarganya.

“Tadi pagi (ditangkap) jam 01.23 di Soetta (Bandara Soekarno-Hatta).

Ada beberapa dari KKP dan keluarga yang bersangkutan,” ujar Ghufron.

Ternyata, tim satuan tugas yang mencokok Edhy di Bandara Soekarno-Hatta pukul 01.23 WIB ialah penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Ghufron menyatakan, saat ini Novel berserta tim masih bekerja.

“Teman-teman masih bekerja, kalau penangkapan kami timnya tidak banyak,” kata Ghufron.

Terbaru Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan 17 orang ditangkap dalam rangkaian operasi tangkap tangan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, 17 orang itu terdiri dari Edhy dan istri, pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta sejumlah pihak swasta.

“Jumlah yang diamankan petugas KPK seluruhnya saat ini 17 orang, di antaranya adalah Menteri Kelautan dan Perikanan beserta istri dan beberapa pejabat di KKP. Di samping itu juga beberapa orang pihak swasta,” kata Ali, Rabu (25/11/2020).

Ali mengatakan, rangkaian operasi tangkap tangan itu berlangsung di Jakarta, Depok, dan Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 00.30 WIB tadi malam.

Selain 17 orang di atas, KPK mengamankan sejumlah barang antara lain kartu debit ATM yang diduga terkait dengan tindak pidana korupsi dan saat ini masih diinventarisir.

“Kasus ini diduga terkait dengan proses penetapan calon eksportir benih lobster,” ujar Ali.

Saat ini, KPK masih memeriksa intensif 17 orang tersebut selama 1×24 jam.

“Perkembangannya akan kami sampaikan lebih lanjut,” kata Ali.

Trending Topik di Twitter

Setelah berita penangkapan Edhy menyebar, kata “Menteri KKP” dan “Bu Susi” menjadi trending topik di Twitter pada Rabu, (25/11/2020).

Kata “Menteri KKP” setidaknya telah ditwitkan sebanyak 11.100 kali.

Selain dua kata tersebut, dari pantauan di daftar trending topik Twitter juga terdapat kata ‘Breaking News” (177.000 kali twit), “Lobster” (24.700), dan “Tenggelamkan” (1.221).

Berikut ini beberapa twit dari warganet yang menyebut nama mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti.

“Itu Menteri KKP penerus Bu Susi yang melakukan korupsi mending di tenggelamkan saja,” tulis akun Twitter @Kanzanjasmara dalam twitnya.

“Reaksi Bu Susi setelah tahu berita Menteri KKP hari ini,” tulis akun Twitter @PrayogoTeguhA1.

“Edy Prabowo ditangkap KPK, Bu Susi bilekkkkk @susipudjiastuti,” tulis akun Twitter @qimohammad16.

Tak hanya mengunggah twit, sejumlah warganet juga menyertakan foto Susi Pudjiastuti.

Sejauh ini, topik “Bu Susi” sudah dituliskan sebanyak lebih dari 6.942 kali oleh pengguna Twitter lainnya.

Menanggapi hal itu, pengamat media sosial Enda Nasution mengatakan bahwa orang-orang menyebut nama Susi Pudjiastuti karena mereka menganggap mereka merasakan apa yang dirasakan bu Susi hari ini.

“Kan sempat ada konflik antara bu Susi dengan pak Edhy Prabowo, waktu soal ekspor benih lobster yang jadi sebab ditangkapnya menteri yang sekarang,” ujar Enda saat dihubungi Kompas.com, Rabu (25/11/2020).

“Jadi, sepertinya netizen memberikan semacam dukungan ‘tuh kan bener Bu Susi bilang’, ya semacam mencerminkan apa yang bu Susi rasakan saat ini,” lanjut dia.

Menurut Enda, fenomena ini merupakan bagian dari respons netizen yang menyuarakan dukungan atas apa yang mungkin dipikirkan Susi Pudjiastuti ketika mengetahui kabar Edhy Prabowo tertangkap KPK.

Enda mengatakan, ada latar belakang yang membuat kontras sejak Edhy Prabowo menggantikan posisi Susi Pudjiastuti saat masih menjabat sebagai Menteri KKP.

“Sebelumnya ada latar belakang di mana bu Susi melakukan protes keras ada rencana ekspor benih lobster yang kebijakan ini justru dilakukan oleh Edhy Prabowo,” ujar Enda.

Mengutip Kompas.com, (25/11/2020), saat Susi Pudjiastuti masih mejabat sebagai Menteri KKP, ada Peraturan Menteri (Permen) Nomor 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan dari Indonesia.

Namun, kebijakan ini kemudian direvisi saat Edhy Prabowo menggantikan Susi Pudjiastuti sebagai Menteri KKP.

Edhy mengungkapkan, larangan ekspor atau jual beli lobster dinilai banyak merugikan para nelayan.

Menteri Edhy dinilai memiliki alasan yang cukup untuk merevisi Permen Nomor 56 Tahun 2016 yang diterbitkan Susi tersebut.

Medsos Hanya Sebagai Wadah Komentar

Di sisi lain, Enda menjelaskan bahwa fenomena “mengomentari dan turut merasakan orang yang menjadi topik yang dibicarakan” kerap terjadi di Indonesia.

Hal ini terjadi dengan awalan adanya berita yang muncul di media sosial dan secara cepat akan dikomentari oleh sejumlah warganet.

“Nah, medsos ini sebagai bentuk komentator atau yang berkomentar terhadap berita yang muncul,” ujar Enda.

Ia menambahkan, komentar yang dilayangkan warganet bersifat subyektif, sehingga bisa pula mengada-ada, dan terkadang menanggapi dengan bercanda.

Reaksi Susi Pudjiastuti

Lantas bagaimana reaksi Susi setelah penggantinya diciduk KPK?

Lewat akun twitternya, @susipudjiastuti, yang sudah terverifikasi, Susi malah mengunggah dua berita terkait keterlibatan politisi Partai Gelora Fahri Hamzah dan pernyataan pakar komunikasi Effendi Gazali yang menantang Susi diiskusi terbuka soal polemik ekspor benih lobster.

Sebelumnya Susi Pudjiastuti mengkritik Effendi Gazali soal pandangannya yang mendukung pembukaan ekspor benih lobster.

Dalam unggahannya di akun twitter pribadinya, Susi menyinggung sosok yang populer di sebuah acara parodi Republik Mimpi itu lantaran menyebut lobster di perairan Indonesia jauh dari kata punah.

“Keilmuan tinggi seorang guru besar, Docto, dalam menjustifikasi / memperlihatkan/ meninggikan/ membenarkan Ignorances untuk Pembenaran Ekspor Bibit Lobster saya tidak berilmu dan saya berduka. Mari simak video ini,” tulis susi dalam unggahannya seperti dilihat Sabtu (15/2/2020).

Menjawab kritikan Susi yang dialamatkan kepadanya, Effendi Gazali meresponnya dengan mengundang Susi ikut dalam diskusi ketimbang saling berargumen di lini masa.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI) ini mengajak Susi datang ke acara diskusi lobster di Kementerian Kelautan dan Perikakanan (KKP) pada Rabu (19/2/2020) mendatang.

“#BuSusiysh 6 @Susipudjiastuti Begini Bu, sesuai peradaban ilmiah: km undang Ibu Silaturahmi & Diskusi Ilmiah “Lobster: Apa Adanya” . Usul km Rabu, 19 Feb. Di Aula KKP (rumah Ibu jg kan?). Para ahli & jurnalis mhn semua yg berkenan hadir. Smg berkenan, jadwal bs kt cocokkan, trms,” tulis Effendi Gazali.

“JGNADADUSTA Ayuk Bu kt ngobrol+ngopi & tunjukkan bukti2. Undangan 19 Feb tetap terbuka. Kt sama2 dukung keberlanjutan + hatchery & bongkar data penyelundupan benih lobster, apa adanya. Trims,” tulisnya lagi.

Diketahui, Effendi Gazali saat ini ditunjuk menjadi Ketua Komisi Pemangku-Kepentingan dan Konsultasi Publik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KP2-KKP).

Menurut dia, ketimbang terus menerus jadi polemik di media sosial, lebih baik diselesaikan dalam diskusi terbuka untuk sama-sama mencari titik temu terkait kebijakan melegalkan kembali ekspor benih lobster.

“Sy mhn maaf jk tdk terlalu sering bs twit atau socmed lain. Sy sdg coba mendengar the voiceless. Itu tugas utama KP2 (Komisi Pemangku-kepentingan). Revisi kebijakan harus sebesar2nya mendengar & memihak semua. Trima kasih,” ucap Effendi Gazali.

Sebelumnya, dalam kutipan video yang bagikan Susi, Effendi Gazali menyebut kalau benih lobster saat ini masih aman dari ancaman kepunahan.

“Jumlah telur lobster 26,9 miliar per tahun, larvanya jadi 24,7 miliar per tahun, dan yang menjadi peurulus 12,3 juta miliar per tahun,” ucap Effendi Gazali.

Di kesempatan itu, meski tak menyinggung langsung Susi, Effendi menyindir pihak-pihak yang menyebut kalau kebijakan ekspor benih lobster mengancam kelestarian lobster Indonesia.

“Jadi jangan ada lagi yang mengatakan ini bisa punah, punah dari sebelah mana? Dan lobster bukan sesuatu yang terancam punah,” kata Effendi Gazali.

Seperti diketahui, Susi memang sejak lama secara terang-terangan tak setuju kalau ekspor benih lobster kembali dibuka.

Saat dirinya menjabat, terbit Peraturan Menteri (Permen) Nomor 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan dan atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan dari Indonesia.

Aturan itulah yang masuk dalam daftar Menteri Kelautan dan Perikanan saat ini, Edhy Prabowo, untuk direvisi.

Sebelumnya Susi juga meretweet jawaban seorang netizen @trionoss9 pada netizen lain yang memburu reaksi sang mantan Menteri KPP atas penangkapan Edhy Prabowo. (Kps)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Open chat
Butuh Bantuan?
Apa Yang Bisa Kami Bantu?